Ditulis oleh: Ki Dhalang Sulang
Bangunan rumah di manapun mempunyai model yang khas sesuai dengan desain yang dipengaruhi oleh adat setempat secara turun temurun.Demikian juga halnya dengan rumah adat Jawa (Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Timur). Rumah adat Jawa biasa disebut dengan istilah Rumah Joglo.
Meski ada beberapa perbedaan antara rumah Joglo model Jawa Tengah, DI Yogyakarta, maupun Jawa Timur, namun secara umum dapat dikatakan serupa. Yang sedikit berbeda biasanya pada atap (penuwun) dan plafon ruang tengah (tumpangsari).
Sedangkan persamaannya antara lain pada pembagian ruangan. Ruangan-ruangan rumah Joglo yang biasanya dibuat antara lain ruangan-ruangan yang disebut emper (sebangsa teras), pendhapa ngarep (ruang tamu terbuka), omah mburi (ruang keluarga), gandhok (sebangsa pavilyun), senthong kiwa (kamar tidur bagian kiri), senthong tengen (kamar tidur bagian kanan), dan pringgitan. (Suyamto, 1992)
Di antara bagian-bagian ruang di atas ada yang ditulis cetak tebal, yaitu Pringgitan, yang ada kaitannya dengan wayang. Bagian yang disebut pringgitan biasanya terletak di antara Pendhapa dan Omah mburi.
Lantainya dibuat lebih tinggi dari pada lantai ruangan yang lain. Biasanya dibuat dari kayu yang disebut dengan istilah Gladhag (seperti lantai surau jaman dulu). Sedangkan ruang pringgitan ini berfungsi untuk tempat pergelaran wayang kulit.
Menurut Donald K. Emerson (1976) istilah “pringgitan” adalah istilah dalam bahasa Jawa. Pringgitan berasal dari kata “ringgit” yang diberi sufik pa-an (paringgitan berubah menjadi pringgitan). Istilah ringgit merupakan penghalusan bahasa (basa krama) dari wayang. Kemudian muncul istilah nanggap wayang atau wayangan, kalau dihalusbahasakan (dikramainggilake) menjadi ringgitan.
Rumah joglo yang harus dilengkapi dengan beberapa jenis ruang termasuk ruang pringgitan tersebut menjadi suatu bukti bahwa betapa kuatnya ikatan adat istiadat orang Jawa (pada khususnya) terhadap dunia wayang. Istilah nanggap wayang atau wayangan seolah-olah seperti wajib hukumnya bagi orang-orang Jawa.
Pada kenyataan jaman dahulu,banyak bukti-bukti tertulis maupun riwayat turun-temurun yang menjelaskan, bahwa setiap ada hajat tertentu, misalnya acara puputan dan selapanan bayi, tetakan (supitan), perkawinan, nduwe uni (kaulan) sangat sering diadakan wayangan. Sebenarnya ada beberapa jenis hiburan lainnya, namun wayanglah yang paling popular untuk ditanggap atau dipergelarkan.
Dengan demikian wayang merupakan bentuk seni budaya yang sudah berlangsung lama dan mentradisi, bahkan jauh sebelun agama Hindu maupun Budha masuk ke Indonesia (khususnya di Jawa).
Ki Manteb Soedarsono dalam (Sarasehan Dhalang Selasa Legen, 2007) menggarisbawahi bahwa tidak salah kalau masyarakat Indonesia dan para pakar budaya (termasuk para pakar budaya dari negara barat) menggeneralisasikan bahwa wayang adalah seni budaya asli milik bangsa Indonesia.
Wayang dan Para Pakar Budaya Dunia
Bangsa Indonesia, baik yang di kota maupun di pelosok-pelosok kampung sangat yakin dan begitu mudahnya mengatakan bahwa wayang adalah warisan peninggalan seni budaya nenek moyang yang “adi luhung”. Namun penulis yakin bahwa tidak banyak orang yang tahu persis apa makna “adi luhung” tersebut.
Menurut Ki Narto Sabdho dalam (rekaman Pagelaran Wayang Lampahan Kresna Dutha, 1978) menjelaskan bahwa istilah “adi luhung” berasal dari kata “adi” dan “luhung”. “Adi” merupakan padankata (Jawa: dasanama) atau punya makna “indah” (dalam istilah Jawa “linuwih”), sedangkan “luhung” merupakam sinonim dari kata “luhur” yang dapat diberikan makna “mengadung nilai kebijakan (filsafat) tinggi”. Dengan demikian, menurut Ki Narto Sabdho lebih lanjut, “adi luhung” dapat diberi makna bernilai keindahan dan bernilai filosofis yang sangat tinggi.
Pernyataan Ki Narto Sabdho di atas tidaklah berlebihan. Hal ini terbukti banyak para ahli filsafat, seni, dan budaya, baik dari dalam negeri maupun dari mancanegara yang begitu antusias untuk mengadakan pendekatan pemahaman, bahkan mengadakan penelitian-penelitian tentang wayang di Indonesia.
Beberapa peneliti wayang dari dalam negeri misalnya, Sri Moelyono, Suyamto,Umar Khayam, Marbangun Hardjowirogo, Maria A. Sardjono, S Padmosoekotjo, Nyoman S.. Pendhit, Pandam Guritno, Seno Sastro amidjojo, Purbotjaroko, Sutarno, Subagyo WS., Yosodipuro, Kethut Nila, dan lain-lain.
Sedangkan peneliti dari mancanegara beberapa di antaranya adalah Thomas Stanford Raffles, William Buck, G.A.J. Hazeu, W.H. Rassers, Brandes, Cohen Stuart, Kerns, Nicholas J. Krom, Lin Yutang, Zoetmulder, Radhakrishnan, Rajagopalachari, Karel Frederik Winter, B.R.O.G. Anderson, Harry Aveling, G. Coedes,George A. Fowler, Roggie Cale, Joe C. Barlett, Clifford Geertz, Howard P. Jones, K. Chaytanya, dan lain-lain.
Tentu saja masih banyak para pemerhati, peminat, dan peneliti wayang yang tidak mungkin kesemuanya dicatat di sini. Lebih-lebih para peneliti terbaru, para peneliti muda, baik dalam maupun mancanegara, yang masih terus dan terus meneliti wayang.
Terlebih lagi setelah pada tahun 2002 pakar budaya dari seluruh jagat raya berkumpul dan berkomitmen di Paris Perancis, yang akhirnya melahirkan sebuah deklarasi luhur demi keselamatan warisan budaya yang disebut “wayang”.
Isi deklarasi Paris tersebut: “WAYANG ADALAH MERUPAKAN WARISAN BUDAYA AGUNG DUNIA”. Konsekuensi dari deklarasi ini adalah sebuah rekomendasi kepada pemerintah negara di segenap penjuru dunia termasuk Lembaga Kebudayaan di PBB, agar ikut melestarikan, mengembangkan, dan menyelamatkan warisan budaya dunia yang dikatakan agung atau adi luhung ini.
Wayang dan Asal-Usulnya
Masyarakat Indonesia pada umumnya, baik yang berada pada komunitas awam budaya maupun komunitas sadar budaya, sangat yakin bahwa wayang adalah kesenian asli milik bangsa Indonesia. Namun sebagian besar dari kita, belum menemukan alasan yang maton, tentang klaim keaslian budaya wayang milik bangsa Indonesia.
Untuk mendasari keyakinan tersebut diperlukan pemahaman sejarah wayang itu sendiri, meski tak harus banyak atau sepenuhnya. Untuk itu di bawah ini akan dipaparkan pendapat Sri Mulyono (dalam bukunya: Wayang, Asal-Usulnya, Filsafat dan Masa Depannya: 1975).
Pendapat Sri Mulyono ini merupakan perpaduan pendapat dari hasil penelitian literer karya pakar-pakar wayang dari mancanegara dan karya peneliti yang bersal dari bangsa Indonesia sendiri. Buku tentang wayang dan segala seluk-beluknya yang diteliti oleh Sri Mulyono antara lain buku-buku karya Soeroto, KGA Koesoemodilogo, Nyoman S.. Pendit, G.A.J. Hazeu, W.H. Rassers, Brandes, Cohen Stuart, dan Kerns.
Dari para pakar wayang di atas dapat disimpulkan oleh Sri Mulyono tentang asal-usul wayang tersebut, terbagi menjadi dua kelompok pendapat, antara lain:
(1) Pertunjukan wayang sebenarnya bersumber, atau setidak-tidaknya terpengaruh oleh pertunjukan tonil India Purba, yang disebut Chayanataka.
Dalam keterangannya lebih lanjut, Sri Mulyono memberi penjelasan bahwa Chayanataka itu semacam sandiwara atau drama purba, dengan pemain orang tetapi dihalangi semacam tabir, atau layar tipis.
Seluruh penonton berada di balik tabir, sehingga hanya dapat melihat bayang-bayang para pemainnya. Model melihat tonil sandiwara hanya melihat bayang-bayang inilah yang dijadikan alasan sebagian para peneliti untuk menyimpulkan bahwa wayang berasal dari India.
Hal ini mirip dengan cara menyaksikan pertujukan wayang pada jaman dahulu (juga sampai masa kini sebagian penonton masih melakukan cara ini), yaitu menonton pergelalaran wayang dari belakang kelir.
(2). Kelompok yang lain berpendapat bahwa pertunjukan kesenian wayang sebenarnya merupakan produk seni budaya asli Indonesia. Hal ini diperkuat dengan alasan keberadaan peralatan yang digunakan.
Peralatan-peralatan tersebut antara lain anak wayang, gamelan, keprak, cempala, jenis-jenis gedhing dan cara mengiringi ilustrasi saat pergelaran wayang, dan segala asesorisnya. Semua perlengkapan tersebut tidak ada di satu negarapun kecuali hanya di negara Indonesia.
Satu-satunya hal yang mempengaruhi pertunjukan wayang pada perkembangan selanjutnya adalah cerita atau lakonnya, yang biasanya diambil dari epos Mahabharata dan Ramayana.Namun kedua buku sumber cerita tersebut telah diadopsi, dimodifikasi dan digubah agar lebih sesuai dengan perilaku budaya, etika, dan estetika asli bangsa Indonesia.
Hal ini akhirnya membawa resiko ambiguitas antara cerita Mahabharata/ Ramayana dengan gubahan cerita para Empu dari bumi Nusantara, semisal Empu Sedah dan Panuluh dengan karyanya Bharatayudha, Empu Kanwa dengan karyanya Arjunawiwaha, Empu Darmaja dengan karyanya Gatutkaca Sraya, dan lain sebagainya.
Contoh karya-karya tersebut kadang memang mengalami beberapa benturan ketidakserupaan dengan buku epos aslinya, Mahabharata dan Ramayana, baik alur cerita, latar belakang tempat dan waktu, serta tokoh dan penokohannya.
Contoh yang lebih jelas lagi misalnya, pada epos Mahabharata dan Ramayana tidak ada tokoh punakawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, tetapi pada pergelaran wayang di manapun di Indonesia, tokoh punakawan tersebut tak pernah untuk tak dihadirkan.
Inilah yang dijadikan alasan kuat oleh para ahli pewayangan, bahwa wayang memang produk seni dan budaya asli Indonesia.
Wayang dan Kita Sebagai Pewaris Seni Budaya
Pada bagian tulisan di atas telah dipaparkan bahwa antusiasme para peneliti dan peminat kesenian wayang tak kunjung berhenti, bahkan sampai kapanpun. Para peminat wayang dari mancanegara semakin meningkat tajam dari sisi kuantitas maupun kualitasnya.
Saat ini sudah tak terhitung dengan jari berapakah jumlah seniman wayang yang berkebangsaan Perancis, Belanda, Belgia, Amerika Serikat, Australia, Selandia baru, Jepang, China, Korea, Thailand, dan bahkan India.
Mereka tidak sekedar mampu mendalang, tapi juga menjadi pengrawit, pesinden, dan kompetensi lain yang erat terkait dengan dunia wayang, termasuk tatah sungging. Fenomena ini sangat jelas dapat dilihat di kota utama pelestari wayang, misalnya di Surakarta dan sekitarnya, dan Jogjakarta, Surabaya, Malang, Bandung (wayang golek Sunda) dan Denpasar Bali (wayang kulit Bali).
Di lain sisi, kita betul-betul merasakan bahwa antusiasme kita sebagai pewaris asli seni budaya wayang justru mengalami kemunduran. Hal ini tampak pada tingkat pengenalan wayang oleh para remaja dan anak-anak.
Mereka pada umumnya merasa asing dengan tokoh-tokoh pewayangan, seni karawitan, dan tembang-tembang tradisional semacam tembang dolanan dan macapat. Apalagi jenis tembang-tembang yang lain semisal tembang tengahan Jurudemung, Balabak, Wirangrong, dan tembang-tembang gedhe semisal Kenya Kedhiri, Pamularsih, Sekarteja, dan lain-lain.
Melihat fenomena ini maka tak salah kalau kemudian muncul anekdot atau joke-joke yang terlontar dari para budayawan kita, misalnya ada yang mengatakan bahwa sekian tahun kemudian kita musti belajar nembang dan sulukan ke negeri Matahari terbit.
Mungkin kita juga perlu sekedar belajar menabuh gender ke negara Kanguru, belajar menggesek rebab ke Selandia Baru, belajar sabet ke Perancis, belajar mancal kecrek ke Suriname, belajar menabuh bonang ke Amerika dan belajar-belajar tentang lainnya di dunia pewayangan.
Saat ini joke-joke tersebut lebih cenderung humoristik. Namun siapa tahu situasi dan kondisi tersebut benar-benar terjadi? Maka dari itu kita tak boleh terlena dari hal-hal yang kelihatannya sederhana tentang dunia wayang ini. Kita musti ingat bahwa masyarakat dunia begitu tingginya menghargai seni budaya kekayaan kita. Mengapa justru kita semakin lupa bahwa kitalah pewaris asli harta budaya tersebut.
Kalau alasan kita untuk hal ini terkait dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang merambah begitu cepat di negari Indonesia tercinta ini, rasanya tidak tepat dan tidak bijaksana. Hal ini dikarenakan bahwa tingkat kemajuan iptek tidak hanya terjadi di negara kita, bahkan kita mengakui di negara barat, dan Asia timur justru tingkat kemajuan ipteknya jauh meninggalkan kita.
Tapi mengapa justru mereka sangat antusias terhadap pelestarian dan pengembangan wayang?
Inilah sesuatu permasalahan tentang dunia seni budaya pewayangan kita saat ini. Intinya kita harus segera menyadari pentingnya merawat, memupuk, melestarikan dan mengembangkan wayang di bumi Indonesia Raya.
Sasaran yang tepat untuk dibina, dikenalkan, dan diajarkan hal seluk beluk wayang tentu saja para remaja dan anak-anak usia sekolah, yang merupakan generasi penerus dan pemegang tongkat estafet kekayaan budaya yang tak ternilai harganya. Jangan sampai wayang ini tiba-tiba diklaim sebagai asset budaya milik bangsa lain, sebagaimana Reog Ponorogo yang telah dirampok dan dipatenkan oleh negara tetangga kita. Bagaimana dengan kita tentang wayang?
Wahai sahabat-sahabat bloger di seantero Nusantara. Jangan sampai terjadi lagi kita serasa kebakaran jenggot, gara-gara wayang diklaim oleh bangsa lain.




alhamdulillah!!!
wayang udah jdi milik awak
Oleh: haliman on 29 September 2009
at 2:22 pm
Selamat pagi, siang, sore, malam buwat bloggers SO. Wuah! baru pada sibuk pisbukan ya? (termasuk dhalange, he he he). Gak apa, biar ada variasi.
Info ringan: apabila rekan-rekan berkenan, sebentar lagi saya mau cerita tentang wayang, yang sudah dimodiv sedemikian rupa sehingga jadi laen dari yang laen (nek gak malah nguawur, hua ha ha ha). Nyuwun idi palilah dhumateng ingkang mbau reksa SO nggih, Meneer Shola…….
Oleh: Ki Dhalang Sulang on 4 Juli 2009
at 10:40 am
Okai, boss…. “to building for village is priority by us….” (moWiar koDe! Java’s English… out!)
Oleh: Pak Kidhal on 5 April 2009
at 6:45 pm
judulnya bangun deso dadi ijo royo royo ae cak
Oleh: gobang on 3 April 2009
at 11:05 pm
“Dari Desa ke Desa”…. Wah! keren juga, makasih masukan dari Maung Badung. Atau… “Bocah Gebugan Menjaring Ning Nong”…
Biar agak identik dengan “Anak Bajang Menggiring Angin”nya Sindhunata (ha ha ha… halah2)
Oleh: Ki Dhalang Sulang on 3 April 2009
at 3:34 pm
pak kidh,judul novelnya mungkin:DARI DESA KE DESA…hak..hak..
Oleh: cah pasar on 3 April 2009
at 9:36 am
Wah! wah! wah! pertanyaan yang sulit juga untuk memulai dari mana menjawabnya (setara dg pertanyaan Duitor) malahan yang ini mungkin bisa dibuat novel loh, Mas Didik (barangkali tak kalah dg “Laskar Pelangi, kata Gus Shola…..he he he) . Secara singkat bisa saya kasih gambaran sejujurnya, sejak kls 2 SR (SD) saya sudah mulai nakal untuk merunut asal sumber suara bunyi2an apapun khususnya bunyi gamelan (umur saya 7 tahunan). Sering nekat sendirian di malam hari yang gelap (th 1960an) sambil ngampet sedikit rasa takut dan bulu kuduk berdiri tegak, jalan kaki dan kadang lari menuju sumber suara tadi ke Sulang lor, Sulang kulon, Galgedhe, Galsari, Banyurowo, Pesantren (lokal). Juga desa sekitar seperti Kemadu, Dologan, Ngemplak, Kaliombo, Landoh, Kapasan, dll. Upah rutin tiap pulang pasti beberapa kali gebugan oleh Babe saya. Karena keyakinan prinsip dan naluri saya (mungkin), sehingga saya tak pernah kapok. Selanjutnya silahkan ditebak sendiri nggih. Kedengarannya khayal tapi nyata. Mungkin seru kalok dinovelkan. Ha ha ha ha ha (*halah! jok percoyo dhing*)
Oleh: Pak Kidhal on 2 April 2009
at 8:16 pm
Pak Kid, kalau boleh tau, dulu sejarah dan ceritanya gimana Pak Kid bisa jatuh cinta sama wayang? Trus belajar mendalangnya ke siapa?
Karena memang ada darah seni di dalam diri Pak Kid, ataukah karena dulu tak ada hiburan lain sehingga hanya wayang yang bisa memuaskan dahaga hiburan rakyat kala itu, hingga witing tresno jalaran soko kulino?
Saya gamang, mesti darimana untuk memulai mencintai wayang. Dari melihat aksi panggung dhalang-kah, membaca sinopsis jalan cerita-kah, memahami silsilah dan karakter tokoh2 wayang-kah, ataukah perlu belajar basa Jawa lagi?
Oleh: didiksalambanu on 2 April 2009
at 6:24 pm
Eko eko…. eh…. oke oke…. ide apik, Brother Eonk. Gambarannya memang gitu kalok memang pada setuju dan sdh ada deal matang ttg program ini. Cukup sulit memang dlm aplikasinya. Tapi apa salahnya untuk didiskusikan bersama. Okai?
Sedangkan masukan ttg festival seni tradisinya bagus juga, tapi pelan2 ya, men. Ke depan nanti mudah2an terwujud.
Tambahan info bagi segenap blogger SO, hari Minggu, 22 Maret kemaren, Mas Mucry (Udin) dan Duitor dkk telah membentuk kepanitiaan awal guna mengadakan Festival Band Sulang. Mari kita kasih support bersama agar bisa terlaksana dg baik. Okai?
Oleh: Ki Dhalang Sulang on 24 Maret 2009
at 7:47 pm
@pak khid: oh ya,lebih keren lagi kalo sulang menjadi tuan rumah festifal kesenian daerah.dengan mengundang kesenian2 daerah dari daerah laen sekitar sulang atau wilayah kab rembang.hehe
Oleh: e o n k on 24 Maret 2009
at 2:03 am
@pak kidh: kalau boleh saran,untuk kolaborasi wayang,musik(band),tarian,rodat dll.jadi wayang dimana dalang dalam acara tersebut sekaligus sebagai moderator atau pembawa acara.mungkin biar ada komunikasi didalam kolaborasinya.wah susah menjelaskannya.hehe
yang jelas jangan menjadi acara puncak yg dapat giliran paling belakang,wayang maen penonton pasti pulang.
eeee…ibarat sinetron,band,tarian,rodat dll adalah iklannya dan wayang itu sendiri sebagai sinetronnya.
wah kok malah bingung dewe…mbangane g usul???hehe
Oleh: e o n k on 24 Maret 2009
at 1:41 am
He he he… masukan bagus, Ndur, tapi tanpa embel2 loh. Maka dengan ini saya bukak secara tidak resmi “Kursus Seni Pedhalangan Tingkat Dasar” gratis, tis, tis. Sementara hanya dg menggunakan metode “omong ngalor ngidul” krn blm ada sarana yang memadai. Ok Ndura dan Duitor: what will you giving to comment?
Oleh: Pak Kidhal on 23 Maret 2009
at 2:41 am
Wes mergawe kok ijeh sangu !
Oleh: dui on 22 Maret 2009
at 11:49 pm
Jadi kulo punya Usul be kidhal, biar seni budaya wayang khususnya diSulang tidak mati,di Usumke lagi..mkn dg cara mengadakan pagelaran wayang di sulang…gmn? ato paling gak be kidhal buka les Privat ttg wayang dan seni perdhalangan gtu lah…(mmm idep2 bisa nambah sanguku hehehe),…;-)
Oleh: ndura on 22 Maret 2009
at 11:04 pm
WAYANG salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan.
betulkah be Kidhal?? he….
Oleh: ndura on 22 Maret 2009
at 10:50 pm
Sembah nuwun Mbak Icha atas masukannya. Pasti bawa manfaat bagi kami dlm mewujudkan angen2 ttg pergelaran wayang. Maaf nggih, kitab pemoeas dahaga-nya sdh saya lahap beberapa kali, tapi blm tak komentari. Okai, makasih, pren…
Oleh: Pak Kidhal on 20 Maret 2009
at 3:00 pm
Saya setuju tuh pagelaran wayang yang njamani. Saya termasuk pecinta kisah wayang, karena sarat filosofi, terlebih konon leluhur saya dulu adalah pelaku pedhalangan (yang ini rasanya saya mesti merunut pohon keluarga dulu hehehe). Ada kendala ketika menyaksikan pertunjukan wayang dengan Bahasa Jawa yang halus dan membutuhkan waktu berjam-jam.
Saya pernah wawancara seorang dhalang “nyentrik” di Jogja, beliau dikenal dengan nama Mbah Kasman. Selain pedhalang, Mbah Kasman juga perajin wayang. Beliau menciptakan bentuk-bentuk wayang yang kontemporer. Hobby beliau adalah mengkliping berita, tujuannya untuk dijadikan materi dalam kisah wayangnya. Sehingga ceritanya ndak ketinggalan zaman. Ditambah lagi, dalam pementasannya, Mbah Kasman memadukan unsur teater, pagelaran musik dan wayang, tanpa menghilangkan pakem-pakemnya. Cukup dua jam dan disampaikan dalam Bahasa Indonesia, para penomton jadi paham, terhibur dan secara tidak langsung jadi melestarikan wayang.
Mungkin ini bisa juga jadi inspirasi…semoga…
Oleh: icha on 20 Maret 2009
at 9:53 am
sep
Oleh: gobang on 19 Maret 2009
at 10:33 pm
Hooh, Duzzzzz, matur suwun. Doa memang paling penting. Saya juga berharap Anda bersiap untuk berkolaborasi dalam pagelaran nanti (lho! kapan si?)
Oleh: Pak Kidhal on 19 Maret 2009
at 9:56 pm
ehm, tak uruni donga saka kene yoo…
Oleh: dusone on 19 Maret 2009
at 1:32 am
apalgi urun duwit dan tenaga! insya allah tansaya enteng, mas pasar!
Btw, saya siap dilibatkan untuk produksi pementasan ini.
Oleh: dui on 18 Maret 2009
at 9:43 pm
bagus tenan itu pak kid,semua pagelaran mungkin bisa dikolaborasikan dalam bentuk sendratama,adapun wayang plus gamelan,musik,rodad dan barongan itu bisa diatur sebagai setting atau background dalam sekenarionya sendratama.rumit memang tapi kalo banyak yang urun rembuk mungkin bisa lebih gampang…
Oleh: cah pasar on 18 Maret 2009
at 2:40 pm
Duluuu sekali, waktu masih SD (sekitar kelas 5 atau 6), kalo tidak gara-gara ikut Pesta Siaga di Blora saya juga tidak tahu yang namanya Arjuna, Yudistira, Bima, Nakula atau Sadewa tuh yang mana aja. Lha wong sudah dikasih tau and ngapalin satu-satu, eh pas waktunya ditanya masih juga salah he he (terlalu instan mungkin).
Oleh: ika on 18 Maret 2009
at 1:49 pm
@Cah Pasar & Gus Gobang & segenap blogger SO: sebenarnya ini baru ‘pangudarasa’nya Duitor pada saya saat ‘off line’ kok. Topiknya tentang sosialisasi SO dan sekaligus mewujudkan salah satu obsesi SO ttg kepedulian sejarah, pelestarian dan pengembangan budaya (dan seni) di Sulang. Saya sangat setuju. Kemudian Duitor menawarkan suatu pagelaran wayang yang dikemas sedemikian rupa sehingga cocok dg tema di atas dan ‘njamani’. Saya ngash gambaran, bagaimana kalok kita mengadakan pagelaran kolaboratif wayang, musik pop/dangdut, barongan, rodat, dan bisa juga seni tari? Untuk wayang dikemas dengan pakeliran padat dg durasi maks 2 jam. Setelah dikolaborasikan dg unsur lainnya tak lebih dari 5 jam durasinya.
Gambaran lainnya lagi, dana untuk sewa peralatan gamelan, wayang, pengrawit, swarawati dan mungkin soundsytem sdh ada penyandangnya. Sedangkan peralatan pendukung lainnya blm ada gambaran. Silahkan kasih masukan ttg model pagelaran, tema, waktu, dan lain2. Maaf nggih, men, kalok athik2 ini kurang berkenan. Hatur suwun.
Oleh: Ki Dhalang Sulang on 18 Maret 2009
at 12:39 am
setuju kid gmna yaaaaaaaa
Oleh: gobang on 17 Maret 2009
at 10:22 pm
@Cah Pasar: ha ha ha…. ini baru wacana loh, tinggal bagaimana kita meresponnya. Silahkan didiskusikan bersama. Duitor kemaren ngomong2 ttg wayangan dg titik sasaran gerakan peduli seni budaya ngiras ngirus pengenalan Sulang Online kepada warga Sulang dan sekitarnya. Angen2 saya, pagelaran wayangnya dikemas sedemikian rupa sehingga bisa diapresiasi kawula muda dan masyarakat luas. Sekali lagi ini sebuah angan2. Semoga kasembadan, nggih co! *halah*
Oleh: Ki Dhalang Sulang on 17 Maret 2009
at 9:32 pm
kalo sudah ada sponsor(dari malang&semarang) berarti tinggal dilanjut tho pak kid…
Oleh: cah pasar on 17 Maret 2009
at 7:45 pm
Weit! senjata makan tuan, wah! sentilan maut nih! hi hi hiks.
@ Gus Uud : saya jadi baru sadar bahwa selama ini (maaf) Bapak/Ibu guru pada umumnya juga nggak mudheng wayang je. Terus… bagaimana caranya untuk transfer pengetahuan tentang wayang buat para siswa?
Hem…. ini ada pe-er lagi ya, Mas.
@Cah Pasar dan Brother Eonk: Setuju banget argumen anda. Tentang pergelaran wayang yang semalam suntuk, sehingga membuat ’suntuk’ (pinjam istilah Brother Eonk, yang istilah ’suntuk’ dikonotasikan dengan ‘membosankan’) sebenarnya sudah diadakan modifikasi dan modernisasi pergelaran wayang, dengan kemasan padat yang cuman memerlukan waktu relatif pendek (1 jam, 2 jam, 3jam, 4 jam), misalnya ada pakeliran padat model STSI Surakarta, wayang sandosa model ISI Jogja, dll. Termasuk pergelaran kolaborasi a.k.a campur bawur. Semua ini untuk berusaha agar wayang tak begitu ditinggal zaman.
@Duitor: Ngomong-ngomong kita di suatu malam kemaren, sudah ada yang ngrespon kok. Untuk dhalangnya gratis nggak perlu dibayar. Segala perlengkapan pergelaran, kayaknya sudah ada sponsor dari Malang dan Semarang. Tinggal mikir hal-hal sebagai pelengkap lain-lain. Namun dengan catatan ini untuk mengenalkan Sulang Online loh. Silahkan dirembug bersama editor dan sahabat blogger semua, kapan dilaksanakan (jangan terlalu mepet waktunya), terus segenap blogger SO bisa pas mudik ke Sulang. Dan Model pergelarannya kalok bisa merupakan kolaborasi antara genre-genre seni Sulang. Wah! siapa tahu mimpi Dusone bener-bener terwujud: Pergelaran Wayang Padat (2-3 jam) dengan didukung musik pop, Ndhang-dhut, Barongan, reyog, dan Rodat) Siapa takut?…….. he he he he he he he ……..
Oleh: Pak Kidhal on 17 Maret 2009
at 7:27 pm
Saya bukan penggemar wayang yang baik. Nyaris belum pernah saya menghabiskan semalam suntuk untuk menonton/mendengarkan siaran wayang, semata-mata karena saya ini gampang ngantukan. Toh, saya sebenarnya bisa menikmati wayang.
Dan juga Yang paling saya senangi adalah bagian goro-goro. Karena ada punokawannya.
Yang menjadi poin perhatian saya dari artikel Ki Dhalang di atas, adalah pentingnya kita nguri-uri “harta budaya” kita. Nguri-nguri tentu saja tidak hanya ngepuk-puk “aku cinta wayang” tapi tanpa tahu apa dan bagaimana sebenarnya wayang itu.
Teman-teman, kalau Ki Dhalang sudah mewarning kita begini, saya kira kita tidak bisa tinggal diam. Harus ada upaya yang lebih sistematis untuk ini. Misalnya, untuk adik-adik yang masih sekolah SMA, tidak ada salahnya untuk mencoba mencari lebih banyak lagi informasi tentang pendidikan seni (wayang). Untuk Ibu dan Bapak guru, saya mengusulkan agar para siswa juga tidak hanya digiring untuk meneruskan pendidikan yang mainstream saja. Wallahu alam bisshowab.
Oleh: Editor on 16 Maret 2009
at 7:20 pm
wayang suatu lakon sama bayangan kehidupan dalam cerita nasehat dalam petuah kebajikan
Oleh: totok on 15 Maret 2009
at 8:05 am
@Duitor: Ha ha ha ha ha…. suatu pertanyaan yang cuuuuerdas banget. Jadi, perlu waktu perenungan dulu buat njawabnya (padune Pak Kidh gak bisa njawab spontan to?, he he he). Tapi nggak perlu khawatir,Du. Jawabannya barangkali butuh sak artikel sendiri. Hayo silakan yang mau mosting artikel wayang, gara-gara pertanyaan Duitor! Okai, men…makasih ya, sudah ngasih pe-er buat saya.
@brother eonk: sisan gawe Yonk, mudah2an segera ada yang punya simpenan cerita rakyat atau legenda Sulang, silahka diposting doung!
Oleh: Pak Kidhal on 15 Maret 2009
at 12:41 am
wayang….
merupakan media untuk menggugah hati kita melalui cerita yang terkandung didalamnya…
Oleh: demoffy on 14 Maret 2009
at 10:54 pm
kenapa wayang tidak disukai kebanyakan kaum muda kidz ? padahal wayang kan susah bikinnya, rumit mentasnya. Apakah memang sesuatu yang baik susah buat ngajak ngajak orang untuk ngikut? Menurut saya wayang itu ritual, butuh perenungan khusus untuk menemukan maknanya. tidak bisa sepintas lalu dinikmati. Untuk sementara ini saya suka wayang karena nuansa yang nyaman ketika mendengarnya, baik di radio maupun di tivi. Apakah saya hanya penikmat ‘abangan’wayang, Ki Dhalang? Bagaimana menumbuhkan kecintaan wayang yang lebih dalam di hati saya?
Oleh: dui on 14 Maret 2009
at 10:01 pm
setuju wis
Oleh: gobang on 14 Maret 2009
at 8:37 am
Hiiiyak! menarik sekali komentar para sahabat blogger SO Community. Saya perlu ulang baca komentar Anda sampai beberapa kali sebelum ngomentari komentar Anda semua. Saya tarik kesimpulan bahwa wayang tetap menarik bagi generasi muda (setidak-tidaknya buat komunitas SO). Bagus, prend. Mari kita diskusikan terus lewat SO ini tentang apapun termasuk wayang. Mudah2an SO makin berkibar dan bermanfaat bagi kita sewa. Yok silakan dilanjut masukan2nya. Ocai….
Oleh: Pak Kidhal on 13 Maret 2009
at 11:51 pm
kalo wilayah pasundan wayang golek kebanyakan sudah dimodif sedemikian rupa yang kadang hanya menampilkan punakawan saja plus penambahan tokoh diluar wayang yang dibuat oleh dalang sendiri seperti misalnya penambahan tokoh anak kecil,tokoh orang jawa yang basa sundanya medok bahkan ada tokoh orang batak dengan basa sunda meledak-ledak,yang paling terkenal adalah tokoh si cepot.Hampir semua televisi swasta lokal menampilkan wayang golek versi seperti itu yang mengangkat tema lokal yang ada dimasyarakat tentu saja plus guyonan habis-habisan.
Oleh: cah pasar on 13 Maret 2009
at 3:12 pm
gobang paling ora moco blas..angger komen..
Oleh: dusone on 13 Maret 2009
at 5:34 am
wis to e o n g………………………………………..
Oleh: gobang on 13 Maret 2009
at 2:20 am
piye mas gobang…sampun di waos dereng serate???
nek males moco sok wae nek ketemu neng omah tak critani.
Oleh: e o n k on 13 Maret 2009
at 1:46 am
pak khidal…misalnya mengangkat cerita sejarah sulang apa dongeng tentang sulang gmn pak??saya dulu paling seneng baca artikel d SO tentang kisahnya mbah Wahab alm.hehe
buat dongeng pengantar tidur..
Oleh: e o n k on 13 Maret 2009
at 1:40 am
wahhhh eong cahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
Oleh: gobang on 13 Maret 2009
at 1:16 am
wah kalo skrg udah baca full…hehe
menurut saya mungkin terjadi pertukaran budaya,org indonesia mengagumi(belajar,meniru) budaya barat dan org barat sebaliknya mengagumi budaya jawa.Dikarenakan adanya kejenuhan terhadap budaya lokal.Yang nantinya akan terjadi akulturasi budaya yang akhirnya tercipta budaya baru.
Kekhawatiran seperti yang diutarakan di atas juga tidak akan terjadi,wayang sebagai budaya minimal tidak punah.Walaupun orang asing yang melestarikan dan mempertahankan budaya wayang itu sendiri.Tapi masyarakat duniapun sudah sangat tau bahwa wayang merupakan budaya asli Indonesia.
Ini hanya menurut saya yang mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda aja lho pak Kidhal…he
Sebenernya saya juga ikut prihatin dg kenyataan seperti di atas.
Mungkinnya lagi,skrg org disibukkan dg pekerjaan yg sangat padat dan pementasan wayang sangatlah lama(semalam suntuk).
Karena semalaman jadinya suntuk(bosan).Harusnya wayang di pentaskan sekitar 2 jam saja,seperti sepakbola.Kalau dulu wajar,karena org banyak waktu luang dan hiburan sangatlah sedikit jadi walaupun semalaman tidak suntuk.hehe
Oleh: e o n k on 13 Maret 2009
at 1:07 am
uwis jes
Oleh: gobang on 13 Maret 2009
at 12:54 am
Ho o yo bang…
tapi ak durung moco tekan rampung,soale mocoku iseh grothal-grathul.Jadinya membutuhkan waktu yg cukup lama.
Mesti koe yo durung moco to bang???hehe
Oleh: e o n k on 13 Maret 2009
at 12:22 am
wahh hebat ya ki dalangggggggg
Oleh: gobang on 12 Maret 2009
at 9:48 pm