
Travelling itu mustinya berkeliling dalam rangka wisata. Tetapi demi menghibur diri, saya sering membayangkan tugas ke luar kota sebagai travelling.
Teks: Youdil Arif
Mikir saya, yang namanya kampung itu ya very ndeso, seperti ndeso Sulang misalnya yang selalu orang balik bertanya lagi di mana Sulang itu setiap mengatakan bahwa saya berasal dari Sulang. Lebih jengkelnya lagi ada yang tidak percaya kalo Sulang itu adalah nama sebuah desa. Daripada repot mumet panjang menjelaskan di mana letak geografisnya Sulang yang belum tentu mudeng maka saya selalu katakan kalo saya orang Semarang agak jauh ke timur, malah beres. Dan paling-paling jawabannya . . . oooooo. . tanpa bertanya lagi.
Dalam bayangan karangan saya kampung Sampireun itu paling-paling seperti kampung wisata lainnya. Tetapi ketika seklebat melewati papan iklannya ternyata kok resort and spa, apa nggak salah resort and spa itu bernama Kampung Sampireun?
Masuk pertigaan jalan menuju ke sana banyak bersliweran mobil mewah letter B (Jakarta). Melihat suasananya sepanjang jalan itu yang biasa saja seperti menuju ke ndeso mana gitu (sok inget) dan tidak ada tanda-tanda khasnya, bahkan kalo belum pernah berkunjung maka sepanjang jalan akan ragu-ragu apa betul jalannya yang ini ya?
Sebelum sampai di tempat tujuan, saya putuskan berhenti dulu di warung pinggir jalan untuk sarapan. Menunya lontong sayur, kopi susu, dan hidangan cuci mulut alternatif yaitu Djisamsu kretek sebatang. Dan mentang-mentang motor jatah saya plat nomernya jakarta , saya lansung dikentel dua puluh ribeng untuk bayar menu tersebut di sebuah warung ndeso. . anjiiiir. .
Selanjutnya saya langsung cabut meneruskan travelling saya sambil berusaha melupakan kejadian yang duapuluh ribeng tadi (anjir lagi), dan akhirnya tak lama kemudian terlihat juga gapura masuk menuju Kampung Sampireun itu.
Kesan pertama saya memang suasananya kampungan betul. Banyak pohon pinus dan wit pring yang kemrosak ditiup angin. Ada semacam danau yang pinggirnya berjajar bungalow yang mirip gubuk berdinding gedek dan beratap ijuk. Terlihat pelayan memakai pakaian tradisional ndeso ala pasundan. Kesan eksotik inilah mungkin dicari para priyayi Jakarta, cooling down menjadi wong ndeso.
Setelah selesai mengurusi kerjaan, saya lalu menikmati lagi pemandangan ala kampung tersebut sambil menghirup udara sejuknya. Kampung sampireun memang resort yang didesain sebegitu rupa hingga persis seperti kampung jaman dahulu yang natural tapi – katanya – pelayanannya seperti hotel berbintang. Dan memang betul seperti yang terlihat di brosurnya, tarif semalam sampai ada yang tiga sampai empat jeti. Wah kalo yang nggak punya yang namanya pohon duwit (bukan juwet) tidak kebeli itu semalam di Kampung Sampireun.
Sekali lagi bicara soal kemasan, nuansa gaya kampungan itu ternyata bisa dijual dan diminati banyak orang bila ditata dan dikemas dengan profesional termasuk memikirkan dengan serius dalam hal promosi, kalo tidak Kampung Sampireun yang tempatnya jauh di ujung gunung itu mana mungkin dikenal orang jakarta kemudian tertarik untuk mengunjungi.
Dan seketika itu saya teringat satu tempat di sebelah utara Sulang yaitu Sambongan. Sambil membayangkan apakah danau kecil itu bisa disulap menjadi kampung Sambongan yang disekitarnya rimbun ditumbuhi banyak pohon-pohon rindang dan wit pring yang kemrosak ditiup angin, lalu berdiri juga bungalow berjajar dipinggir danau tersebut, yang kemudian bisa dimanfaatkan sebagai tempat weekend-nya orang sulang dan sekitarnya. Cooling down setelah hari-hari yang panas dan pusing mikirin air sekedar untuk mandi lalu bluron sekenyangnya.
Kampung sambongan akan menjadi semacam oase memberi pemandangan air melimpah yang teduh rimbun dan bukan tidak mungkin bisa mengangkat nama Sulang yang terkenal dengan wisata alamnya hingga orang tak balik bertanya dan repot menjelaskan lagi di mana Sulang itu.
Tapi mimpi sambongan jadi seperti Kampung Sampireun itu saya bayangkan kok berat juga apalagi untuk jadi kenyataan, seperti yang terlihat dikoleksi fotonya mas dui, sambongan itu hampir seperti bekas galian proyek yang ditinggalkan begitu saja , terisi air ketika musim hujan datang dan mungkin bisa berubah fungsi menjadi arena sepak bola ketika musim kemarau panjang.
Oh. . Sambongan yang sepi tanpa sentuhan natural semak-semak dan rimbunan pohon, . apakah bango tonthong masih sudi mampir disana?. . .
Setelah capek keliling saya pamit pulang dan dititipi pesan promosi berupa brosur iklan Kampung Sampireun sambil dibisiki:. . di sini cocok untuk bulan madu lho. . . . saya cuma jawab: . . oooooooooo.
(Youdil Arif)



Hmm…(sambil manggut-manggut)
Oleh: ika on 10 Juni 2009
at 4:53 pm
makanya,sekalikali paklur,pakcam diajak nongkrong..ocre?
Oleh: duz! on 10 Desember 2008
at 1:52 pm
Salah satu yang khas dari sambongan adalah buat mancing oke banget, sambongan udah well known sampe blora segala lho jack, bahkan ada yang kober kobernya mancing sampe malem dan biasa di juluki dengan uka-uka, tokohnya Pak Brono, Lik Kemi, Pak Parman.
Usul mas gobang bagus banget tuh, aku kok pengen nembung pak camat buat hal itu. Bab sulang jadi objek wisata, kayaknya itu udah sedikit terwujud. Cuman gak komersil. Kabar terakhir Sambongan airnya belom penuh betul.
Oleh: dui on 10 Desember 2008
at 1:27 pm
Semoga ini ndak salah masuk lagi, Duz. Aq yaqin sebelum you jalan2 nostalgia dg jenggot putih panjang dituntun cucu Anda, Sambongan pasti sdh berubah wajah. Nek gak ngandel yok totohan rokok sakplat…
Oleh: Pak Kidhal on 10 Desember 2008
at 1:08 pm
yup..semua stakeholder musti terlibat..and jgn lupa,kaya’nya situ dah masuk wildes jatimudo or kaliombo,kan?brarti minimal pemkec ya melu..
Oleh: duz! on 10 Desember 2008
at 10:26 am
ya ya ya ya…
buat duz … kid lagi ngantuk makane salah kamar…
buat CaPas … memang ide yang oker jes, cuman dari pada ending di belakang kita ga enak… kita harus tau tatacara di pemerintahan ini hub bukan desa lagi dah ke pem kab keliatannya karena PDAM dah di situ
Oleh: gobang on 10 Desember 2008
at 3:37 am
mengubah sambongan memang memerlukan koordinasi banyak pihak juga political will dari pemerintahan desa,tapi melihat fakta market jaman sekarang produk yang nggak ada matinya adalah wisata alam dan kuliner khas dan sulang punya itu semua kalo ditata baik.
Oleh: cah pasar on 10 Desember 2008
at 2:24 am
lhoh..iki bahas sambongan apa genthong(ach.anom)?bgmn dg imej sambongan yg suka menelan menenggelamkan orang?
Oleh: duz! on 9 Desember 2008
at 11:25 pm
ga papa kid semua aman
Oleh: gobang on 9 Desember 2008
at 8:47 pm
Sorry, men, komen saya salah kamar. Wah! Wah! Wah! Dasar wong TOP (tuwo ompong pikun), harap maklum. Ini gak ndagel lho Mas Uut, tapi betul2 salah masuk. Kalau perlu didelet saja nggih. Abis gimana lagi, wong komennya pake psel je. Sapi’inya Pnet ngadat lagi. Sembah nuwun.
Oleh: Pak Kidhal on 9 Desember 2008
at 4:52 pm
Ada dua hal yg perlu saya aplaus di sini:
Pertama ttg figur P Mat (Achmad Anom), memang sangat layak untuk dicatat dan diteladani stillnya sbg striker di dunia bola sepak Sulang. Bravo P Mat Anom …,
Oleh: Pak Kidhal on 9 Desember 2008
at 4:35 pm
JESSSSSSSSSSSS
Oleh: maskuntop on 9 Desember 2008
at 4:14 pm
wah wah wahhhhhh investasi brapa duittt
gini ja untuk sebuah impian semua butuh proses
gmana ya klo kita awali dngan menghijaukan sambongan
ya teman2 yang masih berada di sulang cba cari info dulu entah di
kecamatan atau di mana gtu…ijin mau menhijaukan sambongan di mana?
klo kita inves lebih jauh nanti dulu soalnya ini merupakan urusan sudah di tingkat kabupaten, ntar kita semangat macem2 sudah mau jalan diklaim pemerintah kita kalahhh report kan
sekarang secara sukarela kita cari informasi dulu tentang ijin mau menghijaukan dulu
oker jes
Oleh: gobang on 9 Desember 2008
at 2:48 pm
Ayo mas Gobang. Piye wani investasi ning Sambongan, ra? Ning jangan yang buat ndem-ndeman ya.
Oleh: Uud on 9 Desember 2008
at 2:30 pm
Wah saya malah pernah bikin maketnya lho mas.. Hehheeh. Di sebelah selatan ada kaya penginapan di Sampireun gitu. Trus disebelah timurnya ada kayak waterboom. Dipinggir sambongan jg dibikin jogging track. Wah bisa jadi obtek wisata paling dasyhoooot tuh di Rembang.
Oleh: maskuntop on 9 Desember 2008
at 2:20 pm
nggih kid
Oleh: gobang on 9 Desember 2008
at 1:05 pm
Sapireun identik dg Sambongaeun.
Salut atas laporan travelling Youd CaPas. Semoga jadi sumber inspirasi tourism building Sulang en sekitarnya. Sapa tau ke depan terwujud poros wisata 3S : Sulang – Sambongan – Sudo. Yang sudah sibuk bersolek memang baru Sudo. Semoga …..
Oleh: Pak Kidhal on 9 Desember 2008
at 1:02 pm
mang aku setuju banget
Oleh: gobang on 9 Desember 2008
at 8:55 am
itu yang selalu aku bayangkan mang
di sebelah kantor polisi loket adanya
trus masuk kdalam ada beberapa tempat mainan dan juga adanya pepohonan yang rindang
setuju aku
Oleh: gobang on 9 Desember 2008
at 8:54 am